Istana Cipanas, Jawa Barat, Rabu, 3 Februari 2010
Dialog dengan RCTI
TRANSKRIPSI
TALKSHOW RCTI DENGAN PRESIDEN RI
DI ISTANA CIPANAS, JAWA BARAT
3 FEBRUARI 2010
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Jumpa kembali, kali ini saya Arief Suditomo.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Dan saya Putra Nababan.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Kali ini kami akan mengajak Anda untuk berbincang-bincang bersama Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Tapi Pemirsa dan Arief, kali ini bincang-bincangnya di suasana yang lebih santai. Presiden mengajak kami ke Istana Cipanas, meskipun kami akan membahas hal-hal yang serius dan yang ringan.
Presiden Republik Indonesia
Selamat pagi, Bung Arief, Bung Putra.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Apa kabar, Bapak?
Presiden Republik Indonesia
Baik, alhamdulillah. Ini Cipanas. Banyak orang tidak tahu, begini indah, begini teduh, lihat suara air, saya kira bagus untuk sekali-kali mengubah suasana, dari kebisingan Jakarta ke suasana yang lebih baik seperti ini.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Dan lebih natural Pak ya?
Presiden Republik Indonesia
Lebih natural.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Seberapa sering Bapak ke sini?
Presiden Republik Indonesia
Saya relatif sering karena ini ya sekali-sekali melakukan retreat begitu. Cari ilham, kemudian juga bisa dengan yang lain, evaluasi akhir tahun, ataupun kegiatan-kegiatan pemerintahan juga sebenarnya.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Bapak memilih tempat wawancara suasananya begitu santai. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Bapak, di tengah-tengah suasana santai ini dan kondisi politik yang cukup hangat saat ini?
Presiden Republik Indonesia
Ya, Bung Putra, pertama, tempat ini betul-betul bagus untuk kita bekerja, sekaligus rileks begitu. Yang kedua, jangan lupa bahwa dua hari ini kan ada acara rapat kerja yang dihadiri oleh para gubernur, para menteri, dan bahkan para pimpinan BUMN dan lembaga pemerintah non kementerian untuk evaluasi dan kemudian menetukan langkah ke depan. Kalau berkaitan dengan situasi politik ya, ini negara demokrasi, akan selalu ada. Insya Allah semua itu akan bisa kita kelola dengan baik, dan begini wajar, politik begini wajar, tapi kan tidak sama dengan tahun ’59, tahun ’66, tahun ’98. Jadi, ini ya dinamika demokrasi, insya Allah bisa kita kelola dengan baik nanti.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Dan kalau kita agak flashback ke belakang Pak, khususnya satu pekan yang lalu, hingar-bingar yang ada dari mulai jalan sampai ke parlemen itu kan tidak terlepas dari bagaimana interpretasi mereka soal kinerja 100 hari. Bapak sebagai pemimpin kabinet, pemimpin pemerintahan, kepala negara 100 hari seperti apa yang Bapak lihat? 100 hari yang masih belum sempurna atau 100 hari yang memang masih pro-kontra?
Presiden Republik Indonesia
Ya, sebenarnya kita harus pahami dulu, apa sih program 100 hari? Ini awal dari perjalanan lima tahun ke depan, dan tidak mungkin kita bisa melakukan semua hal dalam 100 hari. Oleh karena itulah, kita tetapkan programnya apa, prioritasnya apa, rencana aksinya apa.
Kalau kita lihat kesitu sebetulnya, sebagaimana kemarin dijelaskan di depan forum rapat kerja, 129 rencana aksi itu pada prinsipnya bisa dilaksanakan, minus beberapa yang belum bisa dilaksanakan dengan baik. Jadi sebenarnya, ini adalah starting point, langkah awal, menentukan arah ataupun haluan. Dan juga kita kan perlu percepatan-percepatan yang disebut quick wins, itu yang kita lakukan. Kalau business as usual mungkin memerlukan waktu satu tahun, tapi banyak yang bisa kita percepat, tiga bulan. Kalau itu yang dinilai, mestinya program 100 hari ini sesuai dengan rencana.
Nah kalau dikaitkan dengan hasil yang instan, tentu tidak mungkin 100 hari. Pemerintahan di negara manapun juga, 100 hari ya 100 hari untuk lima tahun berikutnya lagi.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Memang 100 hari ini seperti yang Bapak katakan tadi, cukup singkat ya Pak. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa ini seperti bentuk mungkin sloganistis, ingin mengangkat citra pemerintah, citra Bapak sebagai pemimpin negara, bagaimana tanggapan Bapak atas tudingan atau pernyataan seperti itu?
Presiden Republik Indonesia
Ya, Putra, memang komentar akan selalu ada ya, dan sekali lagi, itu wajar dalam kehidupan demokrasi. Begini sekarang, kalau pemerintah diam-diam, yang penting bekerja, dianggap kita tidak transparan. Tapi kalau pemerintah menunjukkan kegiatannya supaya rakyat bisa mengikuti, ada yang mengatakan, “Ah, itu sloganistis.”
Yang penting begini, pemerintah meyakini apa yang dilakukan ini, ya mesti dilakukan. Sekali-kali dijelaskan kepada publik. Jadi sebenarnya, sama sekali tidak dalam artian ini sekedar slogan, tapi riil, tapi nyata, dan saya berharap memang nanti para menteri bisa menjelaskan apa saja yang telah dilakukan selama 100 hari ini. Jadi, itulah konsekuensi dari pemerintahan yang harus menjunjung asas transparansi. Kalau pandangan, ada yang negatif, ada yang positif, itu selalu ada. Yang penting, the show must go on, dan kita menjalankan apa yang harus kami jalankan.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Artinya yang penting masyarakat akan bisa mendengar penjelasan dari menteri terkait program mereka itu?
Presiden Republik Indonesia
Betul, lebih rinci, apa saja, bahkan bisa dicek di lapangan karena kita punya sistem monitoring. Sekarang ini, apa yang dilaporkan oleh gubernur, oleh menteri bisa langsung dicek di lapangan, dan saya berharap seperti itu, supaya rakyat juga tahu apa yang telah dilakukan pemerintahnya, termasuk apa pekerjaan rumah yang harus dilakukan ke depan.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Menjelaskan kepada kita sekalian tour Pak ya?
Presiden Republik Indonesia
Iya, ayo silakan Arief, duduk. Ini kan enak suasananya di sini.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Hingar-bingar tanggal 28 Januari pekan lalu, itu sempat terdengar bahwa aksi para demonstran, mengekspresikan bahwa kinerja Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II mendapatkan nilai rapor merah Pak. Reaksi Bapak?
Presiden Republik Indonesia
Ya, begini, saya juga mengikuti langsung maupun tidak langsung unjuk rasa tanggal 28 Januari kemarin, tapi setelah saya cermati, hampir pasti yang mengatakan “Pemerintah gagal total, tidak ada yang dicapai, bahkan dalam 100 hari ini,” tidak mengetahui apa sasaran, apa program, termasuk aksi yang dijalankan oleh pemerintah 100 hari ini. Andaikata mereka mengerti dan mengevaluasinya dicocokkan dengan program atau sasaran itu, pasti tidak akan mengatakan gagal total, akan lebih objektif, akan lebih jujur di dalam menilai.
Dan kemudian begini, evaluasi itu kan berlanjut ya. Kalau mengevaluasi kinerja pemerintah yang akan mengemban tugas insya Allah lima tahun mendatang, ya lima tahun nanti. Tapi kalau 100 hari, ya evaluasilah apa yang dilaksanakan 100 hari sekarang ini. Saya kira itu penting, agar kita sekali lagi bisa memberikan penilaian yang objektif.
Bung Arief, begini, saya sudah mendengar, mungkin sudah tiga bulan yang lalu, “Pokoknya nanti 100 hari kita unjuk rasa besar-besaran, dan hanya satu kata: pemerintah gagal.” Menurut saya, politik yang kurang cerdas. Katakanlah yang berhasil dicapai pemerintah, ya katakan berhasil. Yang tidak, ya katakan tidak termasuk barangkali kritik dan koreksinya, akan kita perbaiki.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Bisa Bapak elaborasi keberhasilan dan yang tidak berhasil dalam 100 hari ini agar kita semua tahu Pak?
Presiden Republik Indonesia
Evaluasi sedang dilakukan karena habisnya 100 hari itu kan tanggal 1 sebenarnya. Banyak quick wins yang telah dicapai, misalnya perangkat instrumen kebijakan yang akan kita jalankan lima tahun mendatang. Kalau kita sekali lagi business as usual, mungkin diperlukan waktu enam bulan sampai satu tahun. Sudah banyak yang kita rampungkan, apakah peraturan pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri, dan sebagainya.
Kemudian proyek-proyek yang sedang berjalan, yang kalau kita biarkan mungkin juga setahun, bisa kita rampungkan dalam waktu tiga bulan: infrastruktur, listrik, dan sebagainya. Jadi, ada capaian-capaian itu. Yang belum, yang barangkali masih memerlukan koreksi, kemarin juga sudah diangkat: bagaimana revitalisasi industri pupuk, industri gula, misalnya yang berkaitan dengan pangan. Jadi kalau itu yang dilihat, tentu akan lebih objektif. Saya ini terbuka sekali Bung ya, kalau ada yang belum berhasil, katakan belum berhasil. Terima kasih, menjadi cambuk bagi kita untuk meperbaiki dan mengoreksinya.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Masih dalam konteks aksi demonstrasi tanggal 28 Januari Pak, kita melihat, kami mencatat bahwa di sejumlah daerah terjadi aksi perobekan foto Presiden, Wakil Presiden Pak, pembakaran di beberapa tempat. Bapak menyaksikan langsung di siaran televisi?
Presiden Republik Indonesia
Saya melihat sepotong-sepotong, saya juga mendengarkan laporan dari banyak pihak, bahkan SMS dari rakyat yang mereka juga merasa prihatin, mereka merasa, “Mengapa Pak demokrasi kita berjalan seperti ini, melebihi kepatutannya?” Respon saya begini Bung Putra: kita kembalikan kepada mereka yang menginjak-injak, yang membakar foto Presiden dan Wakil Presiden, kalau yang dibegitukan itu fotonya sendiri, atau foto orang tuanya.
Saya kira kita punya etika, punya kesantunan. Ekspresi kebebasan, menggunakan hak politik, ingin berkontribusi dalam kehidupan kenegaraan itu baik, bahkan kita undang karena itulah semangat dari demokrasi kita. Tetapi selalu ada batasnya, ada batas kepatutannya. Saya berharap, bolehlah dikatakan kebiasaan seperti itu tidak terus berlanjut, karena menimbulkan iklim kehidupan yang tidak baik, nanti bisa menimbulkan reaksi dari pihak yang lain, karena melebihi kepatutannya.
Oleh karena itu, kepada rakyat Indonesia, mari kita bangun demokrasi yang bermartabat, kebebasan silakan, kontrol pemerintah, berikan koreksi kepada pemerintah, tapi ada batasnya supaya tidak menimbulkan gangguan terhadap silaturahim kita, hubungan kita, baik antara pemimpin dengan yang dipimpin ataupun sesama komponen bangsa.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Dalam aksi kemarin, Bapak juga sempat menyinggung tentang aksi yang membawa kerbau. Itu apa yang kira-kira mengganggu perasaan Bapak terhadap aksi tersebut?
Presiden Republik Indonesia
Ya, begini, kita ini kan dilihat oleh rakyat, dilihat oleh bangsa lain. Jangankan di antara kita ya, dalam keluarga pun kita kan tidak bisa menghina seperti itu. Saya diberi tahu misalnya komentar mereka, “Kerbau itu kan SBY, hanya badannya yang besar, malas, bodoh.” Yang ngirim SMS ke saya merasa, “Apa begitu Pak? Siapa ini sebetulnya? Kenapa politik harus begitu?” Saya mengatakan okelah meskipun saya pemimpin selalu siap menghadapi dinamika apapun, tapi menurut saya, cara-cara seperti itu harus kita cegah dan tinggalkan.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Baik, Pak kalau Bapak menyatakan tadi sebagai pemimpin Bapak siap, orang-orang terdekat Bapak atau para pendukung Bapak, seberapa Bapak siap untuk mempersiapkan mereka juga agar mereka tidak bereaksi yang pada akhirnya kita tidak inginkan?
Presiden Republik Indonesia
Contohnya apa, misalnya?
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Apabila ada counterreaction atau ada reaksi balasan dari pendukung Bapak.
Presiden Republik Indonesia
Saya dimintai pendapat, singkatnya mereka menunggu isyarat dari saya. Pendukung, konstituen, teman-teman, “Pak kalau begini ya kita hadapi secara fisik.” Jawaban saya, “Jangan.” “Itu kebablasan Pak.” “Jangan.” “Kita dibeginikan, dilecehkan, dihina.” “Jangan.” Tidak baik terjadi bentrokan fisik, terjadi konflik horisontal. Kita kembalikan pada tata krama, kesantunan kita, norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Kalau melanggar hukum, kepolisian. Tidak ada kompromi bagi mereka yang melanggar hukum dan kejahatan. Tetapi saya mencegah, janganlah terjadi konflik fisik secara horisontal seperti itu, sambil mengingatkan, betapa saya menahan mereka untuk tidak ikut-ikutan turun ke jalan dan melakukan serangan-serangan fisik. Sama-samalah kita bertenggang rasa dan menjaga semuanya.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Masih berkaitan sama “Jangan” kata Bapak, “Tahan dulu.” Itu artinya ekspresi dari strong leadership, dan strong leadership ini merupakan bagian atau elemen yang kita butuhkan untuk menjalankan program-program Bapak. Strong leadership seperti apa yang akan Bapak realisasikan untuk mewujudkan berbagai macam program yang akan Bapak achieve dalam lima tahun ke depan ini?
Presiden Republik Indonesia
Begini Bung Arief, Bung Putra, sebenarnya ada yang disebut kepemimpinan yang kuat, strong leadership, itu dalam sejarah perpolitikan di dunia, malahan itu dianggap pemimpin yang otoriter, diktator. Saya sependapat bahwa sebenarnya yang kita cari adalah kepemimpinan yang efektif, effective leadership. Ya, kalau pada tingkat nasional, pada tingkat kepala pemerintahan, maka kita pastikan manajemen pemerintahan itu berjalan dengan baik.
Saya dengan para Menteri keras lho, meskipun tidak harus di depan publik. Mereka ada sasaran, ada kontrak kinerja, ada pakta integritas, harus dicapai. Kalau tidak, sebagaimana lima tahun yang lalu, saya juga melakukan beberapa kali perubahan di dalam kabinet, karena saya ingin kabinet tetap efektif, dan bisa mengemban tugasnya dengan baik. Dengan cara seperti itu, saya berharap, baik para gubernur yang memimpin pembangunan daerah, para menteri yang mengelola pembangunan sektoral betul-betul mencapai sasarannya.
Dan begini, bicara kepemimpinan ya, Bung Arief, Bung Putra, jangan terkecoh dengan gaya atau style. Bisa saja supaya dianggap pemimpin yang hebat, pemimpin yang berani, pemimpin yang tegas, dan segala macam, maka cara bicaranya, action-nya sedemikian rupa. Kepemimpinan itu tidak identik dengan itu. Gaya bisa berbeda-beda, tapi outcome-nya apa. Lima tahun ada nggak yang hasil dicapai di bidang ekonomi, di bidang keamanan, dan sebagainya. Lantas ada progres tidak, seperti itu, dan ketika memimpin, apakah environment, lingkungan nasional itu cukup kondusif, semua bisa bekerja, semua bisa berkarya, dan program-program bisa dilaksanakan dengan baik. Saya memaknai kepemimpinan efektif seperti itu, dan sekali lagi benar tidak boleh ada yang memberikan cek kosong kepada saya, harus riil, harus konkrit.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Cek kosong tidak boleh.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Masyarakat melihat dan mencatat bahwa Bapak pernah mengatakan bahwa Bapak akan berdiri di depan dalam pemberantasan korupsi, dan itu Bapak tekankan dengan menaruh pemberantasan mafia hukun di prioritas pertama dalam list, daftar program 100 hari. Tapi kita juga melihat perlawanan konstan Pak dari para makelar kasus, koruptor, dan kaki tangannya di segala lini. Bagaimana Bapak bisa mempercepat sistem anti korupsi ini, sehingga efektif betul?
Presiden Republik Indonesia
Ya, Putra, sebetulnya perlawanan dari para koruptor itu sudah kita rasakan, paling tidak saya rasakan sejak tahun 2006 ketika saya saya membentuk Tim Tastipikor, ketika saya mengeluarkan Instruksi Puntuk sebuah kampanye anti korupsi besar-besaran, ditambah dengan KPK yang proaktif dan aktif , dan penegak hukum yang lainnya. Bahkan ada yang mengatakan kepada saya, “Pak SBY, sudahlah, moratorium saja.” Ini kalau begini susah.
Orang takut mengambil keputusan, kredit tidak lancar, semua takut dianggap korupsi. Saya katakan, “Nggak mungkin. Kalau kita moratorium, selamanya Indonesia akan ada dalam kegelapan.” Memang ada Teori Kurva C: begitu kita laksanakan pemberantasan secara intensif, perlawanan luar biasa. Ada masalah memang, ada stagnasi, tapi begini, memberantas korupsi itu tetap perlu waktu. Hongkong itu 13 tahun, mengubah sistemnya menjadi bersih seperti sekarang ini.
Saya punya keyakinan, kalau ini kita jalankan betul, 10 tahun lagi, 15 tahun lagi negara kita akan berbeda, asalkan siapapun yang memimpin negeri ini, pemerintah manapun nanti tetap konsisten. Dan jangan lupa bahwa pemberantasan korupsi itu bukan hanya penindakan lho, bukan hanya membawa orang masuk penjara saja, tetapi juga pencegahan. Oleh karena itu, kita tata birokrasinya, governance-nya, kesejahteraannya, agar mereka tidak semudah itu melakukan korupsi. The show must go on dan harus terus lebih intensif, lebih nyata pemberantasan korupsi ke depan
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Jadi kalau tadi Bapak bilang, 10 sampai 15 tahun memang Indonesia projection-nya untuk memerangi korupsi selama itu ya Pak?
Presiden Republik Indonesia
Saya, begini, negara lain yang lebih tidak complicated, yang lebih simpel memerlukan waktu belasan tahun. Indonesia sangat kompleks, perlawanan luar biasa, puluhan tahun barangkali banyak praktek-praktek yang dianggap dulu tidak apa-apa, ternyata itu dalam ukuran internasional korupsi. Jadi menurut saya, daripada saya terlalu mudah berjanji, lebih baik kita siap mental untuk 10 tahun ini bekerja habis-habisan, bahwa lebih cepat datang, alhamdulillah.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Pak, kompleksitas yang tadi Bapak hadapi dalam memerangi korupsi paling tidak juga bernuansa ke politik juga, dan dalam menyikapi ini dan kita menghadapi situasi yang di dalam alam demokratik ini, Bapak juga sempat melontarkan bahwa jangan ada politik fitnah atau politik adu domba seperti itu. Kurang lebih, apa yang ingin Bapak maksudkan dari lontaran hal tersebut, jangan ada politik fitnah, jangan ada politik adu domba?
Presiden Republik Indonesia
Ya, sangat penting Bung Arief, Bung Putra, begini lho. Kita ini habis waktu, energi terkuras, harusnya bisa mengerjakan banyak hal, karena terjebak dalam kontroversi yang tidak ada habis-habisnya, padahal itu tidak ada. Kalau kebijakan pemerintah, keputusan Presiden A tentang pajak, tentang energi, tentang pembangunan daerah, silakan, mau dikritik, mau dikecam, mau diangket misalnya, tidak apa-apa. Tapi kalau tidak ada menjadi ada, itu prihatin kita.
Politik kita salah arah. Coba, tiba-tiba ada yang mengatakan, 1,7 triliun dana Bank Century mengalir ke kubunya SBY. Satu, telah terjadi pembunuhan karakter, kerusakan nama sudah terjadi. Kemudian tentu itu sesuatu yang sangat tidak adil. Oleh karena itu, khusus itu hukum harus jalan terus.
Tapi poin saya begini, kalau yang tidak ada menjadi ada, maka iklim kehidupan di negeri ini akan saling curiga-mencurigai, saling lihat-melihat, “Jangan-jangan nggak benar, jangan-jangan nggak benar.” Ini tidak baik, dan sebenarnya juru fitnah itu kan tidak ksatria, pengecut. Kalau memang ksatria, apa sih yang kurang? Apa yang tidak benar? Apa yang salah? Nah di situ yang diangkat, bukan sesuatu yang tidak ada. Fitnah ini siapapun bisa kena, misalkan Bung Arief, Bung Putra tiba-tiba besok ada berita terima uang 10 miliar karena ada tujuan tertentu. Yang memfitnah kedua Bung ini dikasih forum oleh TV X misalkan, ceritakan seperti apa. Setiap orang bisa menuduh orang lain dengan kreasi mungkin selama sampai pagi tidak tidur karena mencari apalagi yang mau difitnahkan. Ini menurut saya tidak sehat.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Bapak Presiden, di tengah fitnah dan adu domba yang tadi Bapak gambarkan, apakah timbul keresahan di kalangan menteri ataupun teman-teman dari kalangan politisi yang memang merasa ikut terfitnah atau diadu domba dengan Bapak Presiden?
Presiden Republik Indonesia
Ya, pastilah ya, pasti seperti kemarin waktu saya sedang berada di Madiun, Jawa Timur, bertemu dengan ratusan bupati, tiba-tiba ada berita yang beredar di media iya, di warung kopi iya, presiden akan segera mengganti Menteri Keuangan, ditambah lagi penggantinya adalah X begitu, ditambah lagi katanya itu hasil kompromi antara SBY dengan Aburizal Bakrie-Golkar. Apa yang terjadi? Itu kalau tidak cepat kita respon dan itu tidak ada kok jadi ada, bisa salah paham antara Menteri Keuangan dengan presidennya.
Yang kedua, Menteri Keuangan dengan pimpinan Golkar. Menteri Keuangan dengan si X yang katanya akan diangkat presiden menjadi Menteri Keuangan. Ini contoh kecil, dan tentu banyak lagi yang tentunya adu domba ini sengaja Bank Century nanti agar terjadi reshuffle, agar terjadi pergantian menteri, dan sebagainya. Ini menurut saya tidak semestinya, sekali lagi marilah kita berangkat dari fakta, bukan dari fiksi, apalagi fitnah.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Bapak dikenal sebagai pemimpin yang hands on, menciptakan terobosan-terobosan dan cukup melekat dengan apa yang Bapak gariskan kepada anak buah Bapak. Bapak bisa elaborasikan, kira-kira apa saja terobosan-terobosan yang sudah Bapak berikan dan dilaksanakan dan kita nikmati saat ini bersama-sama atas program yang Bapak gariskan tersebut?
Presiden Republik Indonesia
Ya, Bung Arief, Bung Putra. Ingat bahwa tahun pertama di samping mengatasi Aceh, baik karena tsunami maupun harus menghentikan konflik waktu itu, saya banyak jalan ke daerah, semua provinsi, kabupaten, kota, bahkan bertemu langsung dengan komunitas-komunitas, apakah nelayan, petani, guru, buruh, dan sebagainya. Di situ saya melihat bahwa kalau terlalu konvensional yang menjadi program pemerintah, ya itu berarti baik, negara akan bergerak ke arah yang lebih baik.
Tetapi ada isu-isu aktual yang dirasakan oleh masyarakat dan tidak ada artinya pertumbuhan tinggi, katakanlah stabilitas baik, kalau dalam kehidupan sehari-harinya mereka tidak merasa, “Apa yang saya dapatkan?” Oleh karena itulah, lahirlah program-pogram pro rakyat yang intinya bagi yang sangat miskin dan tidak berdaya kita bantu di bidang pendidikan, kita tahu semua, di bidang kesehatan, beras yang bersubsidi, kemudian bagi yang mengalami musibah, kemudian BLT bersyarat, itu yang langsung untuk mereka. Anggarannya tidak sedikit.
Yang kedua, kemiskinan itu akan berkurang kalau rakyat kita itu pendapatannya bertambah. Pendapatan bertambah kalau usaha mikro dan kecil itu juga jalan. Oleh karena itu, lahirlah pikiran saya dulu: mikro kredit, terilhami oleh Muhammad Yunus yang dari Bangladesh ya. Ternyata itu dahsyat karena usaha kecil-kecilan bisa bangkit, income-nya bertambah, menambah tenaga kerja 1-2 orang tiap usaha kecil itu.
Dan yang ketiga, seringkali pembangunan itu karena top down meskipun sudah otonomi daerah, tapi kecamatan-desa tidak serta-merta merasakan. Lahirlah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, 3 miliar kita alokasikan kepada masing-masing kecamatan dan desanya, dia bangun apa saja yang diperlukan: jembatan kecil, pasar kecil, silakan. Ada yang nyumbang dari masyarakat juga silakan. Semua ini sebetulnya bukan perubahan tapi melengkapi, mem-back up pembangunan yang konvensional. Kalau turun ke bawah, survei-survei mengatakan apa yang disukai rakyat adalah program-program pro rakyat yang mereka langsung merasakan.
Ya sebenarnya begini, saya manusia biasa, tentu banyak kekurangan dan kelemahan saya, tetapi kalau selama saya memimpin lima tahun kemarin rakyat tidak merasakan manfaat apapun, ya tidak mungkin saya diberikan amanah lagi. Jadi jangan keliru melihat rakyat. Mereka bisa mengerti, tahu bahwa masalah kadang-kadang sulit, tetapi mereka tahu pemimpinnya bekerja dan ingin membuat terobosan-terobosan yang mereka rasakan.
Program pro rakyat itu salah satu yang menurut saya benar-benar baik untuk dilanjutkan dan saya minta para gubernur dalam retreat ini dengan para menteri, coba perbaiki apa yang nggak benar, entah mekanismenya, entah sasarannya, entah sinkronisasi pusat dan daerah sehingga lebih baik lagi.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Kami ingin beralih ke masalah yang populer dan hangat sekarang Pak semenjak kasus Bibit-Chandra dan juga bail out Bank Century, suara minor bermunculan ke arah pemerintahan Bapak dan kepada Bapak, tapi tampaknya Bapak Presiden begitu taktis dalam menanggapi ini, apa memang tidak ada kerisauan Pak terhadap hal ini?
Presiden Republik Indonesia
Begini, soal ini kehidupan demokrasi, peran media sangat mengemuka, dan saya tahu, kasus Bibit, kasus Chandra, kasus Bank Century itu ada yang betul-betul fakta, tapi juga ada biasnya. Ada juga informasi tambahan termasuk yang tidak ada menjadi ada tadi, sehingga persepsi masyarakat melebar seolah-olah begitu gelapnya kedua kasus itu. Padahal kalau kita telusuri, sebetulnya bisa kita jelaskan apa masalah Pak Bibit dengan Pak Chandra, dan apa masalah Bank Century.
Kalau saya begini, Bung Putra, setiap persoalan di negeri ini kan selalu ada jalan pemecahannya, ada kerangkanya. Kita kembalikan ke Undang-Undang Dasar, kita kembalikan ke undang-undang, kita kembalikan ke aturan main. Jadi, pastilah nanti ada solusi yang tepat. Yang penting, tetap kontekstual, sesuai dengan sifat dari permasalahan itu, dan jangan terlalu banyak kepentingan-kepentingan yang tidak semestinya, kepentingan politik praktis. Jadi saya memaknai seperti itu, oleh karena itu, kita respon dengan baik, tetapi yang penting bagi saya, selesaikan semua masalah itu sesuai dengan aturan yang sebenarnya dan betul-betul jernih.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Menyambung tadi apa yang Putra sebutkan, suara minor Pak, yang paling keras justru datang dari anggota koalisi Bapak sendiri. Kira-kira apakah memang demikian sulit mendisiplinkan anggota koalisi?
Presiden Republik Indonesia
Ya, ini menarik pertanyaan ini. Begini, sebetulnya lima tahun yang lalu, koalisi itu dalam banyak hal solusi, tapi ada juga masalah-masalah yang ditimbulkan dalam koalisi. Bahkan sebuah majalah internasional, The Economist, mengatakan pemerintahan SBY lima tahun pertama begitu dikatakan pada prinsipnya mencapai banyak hal meskipun dalam koalisi yang rapuh.
Ini dunia mengatakan seperti itu. Nah begini, koalisi sekarang ini kan sudah ada namanya kesepakatan yang harus kita jalankan dengan baik. Jadi, kembalilah pada kesepakatan itu, jangan merdeka sendiri-sendiri, mengutamakan kepentingannya sendiri-sendiri, dan saya akan mengevaluasi, apakah seperti ini atau ada sesuatu yang lain sebab tidak mungkin koalisi terjadi. Di kabinet banyak sekali menteri dari partai-partai yang berkoalisi, tapi rakyat bingung, kita sendiri tidak certain apa yang didapatkan dari koalisi itu.
Tetapi menurut saya ini baru bulan-bulan pertama barangkali normal, tetapi saya akan bicara dengan bahasa terang nanti, tanpa kebersamaan, tidak mungkin kita bisa berbuat banyak. Oleh karena itu, saya masih berharap koalisi ini kokoh, dan ya nanti ada pilihan: yang memang tidak nyaman dengan koalisi, saya persilakan kok untuk meninggalkan koalisi kalau itu terjadi, karena ya itulah konsekuensi dari politik. Tapi yang jelas, rakyat akan melihat mana anggota koalisi yang konsisten, yang betul-betul sesuai dengan kesepakatan yang ditandatanganinya sendiri, dan mana-mana yang justru mengganggu.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Bapak, saya sempat mengevaluasi dan mengindikasikan timbulnya kekecewaan-kekecewaan dari koalisi ini, sehingga tidak disiplin?
Presiden Republik Indonesia
Tidak begitu, kalau kita lihat misalnya kasus Bank Century ya, semua pihak tahu, bahwa terlalu banyak kepentingan politik pribadi di situ. Terlalu banyak juga barangkali membeli 2014, “Nah kita tunjukkan bahwa kita tidak terikat oleh siapapun.” Itu tidak sesuai dong dengan kesepakatan koalisi. Saya tidak main gertak, saya tidak main statement yang tidak diperlukan, tapi saya hanya ingin konsekuen, konsekuen bahwa koalisi ada aturannya, mari kita tegakkan aturan itu
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Jadi Bapak siap ya Pak untuk menghadapi konstelasi atau konfigurasi politik baru apabila Bapak?
Presiden Republik Indonesia
Harus siap, harus siap. Karena begini, saya dipilih oleh rakyat, 73.800.000, yang saya lakukan untuk mereka. Koalisi ini adalah satu means, satu wahana, satu sarana politik untuk betul-betul saya bisa menjalankan tugas dengan baik. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita hadapi persoalan ini dengan tanggung jawab, dan dengan menjunjung tinggi etika politik yang ada.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Saya harus menambah pertanyaan dari Arief karena Bapak menyatakan siap, karena ini menyangkut juga dengan bagaimana masyarakat melihat pemerintahan ini dan merasakan dampak dari pemerintahan, kapan kira-kira waktu yang tepat menurut Bapak sehingga pemerintah ini bisa bekerja dengan fokus, tidak terganggu dengan koalisi, sehingga masyarakat itu bisa merasakan?
Presiden Republik Indonesia
Politik itu bukan matematik, tidak bisa bikin timeline, tidak bisa diukur sebulan, dua bulan begitu. Tapi begini, dalam periode pemerintahan yang pertama 2004-2009 dulu, itu enam bulan pertama juga gonjang-ganjing, ada koalisi kebangsaan, ada koalisi kerakyatan, ada hubungan yang tidak nyaman antara legislatif dengan eksekutif, termasuk sesama koalisi, belum ada masalah Aceh, tsunami, konflik, dan sebagainya. Saya punya keyakinan bahwa setelah kita saling belajar sekarang ini, kita akan bisa melampaui semuanya itu dan pemerintahan akan lebih efektif lagi.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Baik, masih dalam konteks sejumlah anggota koalisi, ini upaya mereka memakzulkan Wakil Presiden Boediono, apa tanggapan Bapak? Apakah Wakil Presiden Boediono yang bukan dari latar belakang politisi pernah mungkin berkeluh-kesah terhadap Bapak tentang situasi politik yang terjadi saat ini?
Presiden Republik Indonesia
Ya, Pak Boediono sampai sekarang tetap jernih, tetap rasional, tetap berpikir secara logis. Tentu barangkali jam terbangnya berbeda antara saya dengan Pak Boediono. Mungkin saya lima tahun sudah diuji, dibanting, dihantam, mungkin itulah yang membikin mental saya lebih kuat. Pak Boediono newcomer, tapi dengan cepat beliau memahami politik memang kadang-kadang keras dan kejam.
Itulah yang saya terus bersama beliau untuk fokus pada tugas pokok, persoalan Bank Century bisa beliau hadapi, menjelaskan mengapa diambil kebijakan seperti itu dan seterusnya, dan selebihnya kami berdua sepakat untuk fokus pada tugas-tugas memimpin pemerintahan ini, fokus apa yang bisa kita lakukan untuk rakyat.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Artinya tidak ada kata mundur buat Pak Boediono karena ini?
Presiden Republik Indonesia
Saya pikir terlalu jauhlah seperti itu karena begini Bung ya, semangat kita ini dalam kabinet presidensil, semangat Undang-Undang Dasar 1945 itu bukan saling menjatuhkan lho. Presiden tidak bisa membubarkan DPR atau parlemen, DPD, MPR. Tapi sebetulnya parlemen tidak dalam semangat seperti satu kabinet parlementer, mosi tidak percaya, lantas pemerintah jatuh, lantas menteri mundur, perdana menteri mundur, dan sebagainya, bukan. Ini betul-betul checks and balances, saling memperkuat sistem ketatanegaraan.
Kalau impeachment ada aturannya, tapi tidak boleh karena nggak suka, impeach. Karena ada masalah itu, di-impeach. Itu menjadi keluar dari logika dan pikiran-pikiran yang rasional. Ketentuan impeachment jelas sekali dalam konteks apa, dan itu sebetulnya bukan politik, tapi pelanggaran hukum yang berat, perbuatan yang tercela, tidak lagi memenuhi syarat, meskipun prosesnya proses politik, tapi hakikat impeachment itu sesungguhnya lebih banyak kepada kejahatan sebetulnya.
Menarik ya, tapi ya itulah kehidupan di negeri ini, itulah politik, itulah demokrasi.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Jadi apapun yang terjadi, Bapak pikir lima tahun yang pertama itu lima tahun yang sangat berat, sekarang?
Presiden Republik Indonesia
Dan pelajaran yang sangat berharga untuk berikutnya lagi. Bagaimana kalau kita jalan? Kita jalan ya? Ayo.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Mari, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Ya, ini sebetulnya semacam hutan mini untuk kita jaga. Lihat tumbuh pohon-pohonan yang besar begini, tegak, dan ini kita jaga supaya kalau sekali ke Cipanas, menemui hutan seperti ini yang saya kira bagus untuk climate change.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Untuk olahraga juga bagus ya Pak?
Presiden Republik Indonesia
Olahraga bagus.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Memanjakan paru-paru Pak.
Presiden Republik Indonesia
Segar, begitu. Ya tidak mudah cari begini di Jakarta toh.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Waktu di awal Bapak Presiden membina karier politik, bagaimana Bapak menjaga citra itu, Bapak serius. Namun sekarang ada beberapa hal, banyak pihak yang mempertanyakan kira-kira bagaimana Bapak menjaga citra sekaligus mengimbangi citra tersebut dengan hasil kerja nyata?
Presiden Republik Indonesia
Ya, saya mendengar itu. Begini, tidak ada satu orang pun pemimpin, baik di negeri ini apakah presiden, menteri, gubernur, bupati, walikota, ataupun di luar negeri yang tidak ingin tampil baik. Pasti ingin tampil baik agar rakyatnya percaya dan dia bisa mendapatkan dukungan. Kemudian kalau bicara politik ya, politik ini kan juga orang mengatakan tentang prestasi tapi juga tentang persepsi. Tapi ingat, tidak mungkin pencitraan atau citra itu mendapatkan nilai baik kalau tidak ada yang dilakukan. Saya tidak percaya. Jadi, setiap pemimpin ingin menjaga citranya dengan cara integritasnya dipelihara baik, kemampuannya ditunjukkan, dan hasil kerjaannya juga ada.
Jadi, dalam pemilihan umum misalkan, dia terpilih jadi gubernur karena citra, dia terpilih sebagai presiden karena citra, tapi hati-hati, rakyat juga tahu apakah seseorang atau politisi itu, dia mengatakan apa yang dia lakukan. Ada pepatah, “Say what we do,” dan kemudian “Do what we say.” Oleh karena itu, kalau saya terserah rakyat melihat seperti apa, tetapi kalau rakyat setuju apa yang saya omongkan itu, saya jalankan atau akan dijalankan sesuai dengan visi dan misi, tentu rakyat bisa menerimanya. Dan saya kira berlaku bagi pemimpin yang lain tentang keinginan untuk tampil baik dan keinginan untuk menjaga citra.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Banyak kalangan bertanya, mungkin juga ada yang mengkritik, bagaimana mungkin Presiden SBY karena kesibukannya masih sempat-sempatnya menulis lagu, membuat album, apa tanggapan Bapak?
Presiden Republik Indonesia
Ya, itu juga saya dengar, begini Bung Putra, setiap orang punya hobi, demikian juga apakah seorang perdana menteri, seorang presiden. Ada yang hobinya mancing, ada yang hobinya naik gunung, ada yang hobinya tiap hari misalnya lihat bunga, atau olahraga tertentu, naik kuda. Itu pilihan masing-masing.
Kemudian hobi saya antara lain menyanyi dan menulis lagu, tetapi menulis lagu ini kan rata-rata 5-6 bulan saya menciptakan satu lagu. Jadi, tidak akan mengganggu apapun, menciptakan lagu dua jam di tengah malam misalnya, sehingga kritik itu, oke namanya kehidupan selalu ada yang melihat dari kacamata yang positif, ada yang dari kacamata yang negatif, tetapi saya pastikan saya tentu punya kewajiban untuk menjaga keseimbangan kehidupan sehari-hari saya antara bekerja, menghadapi persoalan yang pelik, harus mengambil keputusan, tetapi tentu ada cara saya untuk menjaga keseimbangan tadi. Jadi, dalam konteks itulah dan untuk rakyat Indonesia, sama sekali tidak pernah menyita waktu kerja saya untuk yang lain.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Waktu senggang ya Pak?
Presiden Republik Indonesia
Waktu senggang saya.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Bapak Presiden, kami ingin menyentuh hal yang sedikit pribadi buat Bapak. Kedua putra Bapak memilih karier yang sangat cemerlang, satu di militer, satu di parlemen dan karier politik putra Bapak kedua cukup cemerlang. Dari kedua putra Bapak, apakah sudah bisa kita interpretasikan bahwa Bapak telah mempersiapkan trah Yudhoyono, untuk mempersiapkan mereka menjadi pemimpin bangsa?
Presiden Republik Indonesia
Ya, ini juga menarik. Begini, saya tidak percaya pada teori trah, pada teori keturunan dalam demokrasi. Siapa yang akan menjadi pemimpin, pemimpin level apapun, apakah daerah atau pusat, ya haruslah mereka yang punya kemampuan dan diterima oleh rakyat, didukung oleh rakyat. Oleh karena itu, saya mengajak kalau kita memahami hakikat demokrasi, janganlah berteori tentang trah, tentang keturunan. Tapi kewajiban orang tua tentu kan mempersiapkan, membekali anak-anak kita untuk dalam perjalanan kariernya berhasil, ditambah dengan doa kita.
Itu yang terjadi, dan saya tidak pernah misalkan Ibas yang di dalam politik, kan isunya akan menjadi Sekjen Partai Demokrat, Ketua Partai Demokrat. Tidak tepat, dia masih muda, biar dia belajar lima tahun, 10 tahun, suatu saat kalau dia punya kemampuan, terpilih, ya itu karier dia. Demikian juga yang di militer. Jadi, biarkan mereka menjalani kariernya, berjuang dengan gigih supaya masa depannya baik.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Masih masalah keluarga Pak. Beberapa kabar atau beberapa proyeksi orang juga menyebutkan kalau Ibu Negara, Ani Yudhoyono, juga punya potensi untuk masuk perpolitikan pada akhirnya akan mengikuti jejak Christina Hernandes dari Argentina, Hillary Clinton dari Amerika Serikat, dan itu bukan hal yang aneh mencalonkan Ibu Negara.
Presiden Republik Indonesia
Saya pernah membantah di koran, saya pernah mendengar dan pilihan kami tidak, tidak. Istri saya sangat jernih, saya, keluarga juga demikian, dan mereka akan sungguh bersyukur kepada Allah SWT kalau saya dalam memimpin negara ini berhasil sampai akhir masa bakti saya, dan kemudian anak-anak sekali lagi memiliki masa depan yang baik. Jadi, tidak ada ambisi politik apapun bagi keluarga kami, termasuk bagi istri untuk katakanlah juga ikut masuk dalam dunia politik kemudian siapa tahu menjadi pemimpin.
Nanti kalau sudah selesai mengemban tugas, justru saya ingin apa yang bisa kita lakukan untuk rakyat sambil membantu pemerintahan yang akan datang, membantu presiden yang akan datang. Tugas presiden berat, kita harus membantu dan tidak mengganggu. Itu menjadi komitmen keluarga kami.
Arief Suditomo, Pemimpin Redaksi RCTI
Pada ruang dan waktunya mungkin Pak, bukan sekarang, kalau nanti bagaimana?
Presiden Republik Indonesia
Itu pun sudah kita bahas, pada prinsipnya tidak ada pikiran ke arah situ dan jelas kita memilih pilihan yang lain. Jadi, saya kira isu ataupun rumor yang seperti itu, kami dari keluarga ingin menyampaikan jawaban yang pasti dan jawaban itulah yang ada dalam pikiran kami sekeluarga.
Putra Nababan, Presenter RCTI
Bapak Presiden, sebagai seorang pemimpin bangsa, tentunya Bapak ingin meninggalkan sebuah legacy atau warisan kepada bangsa Indonesia. Warisan macam apa yang ingin Bapak tinggalkan kepada masyarakat Indonesia?
Presiden Republik Indonesia
Warisan ya, legacy. Begini, yang kami akan bersyukur, keluarga akan bersyukur kalau rakyat Indonesia suatu saat mengetahui bahwa yang namanya Presiden SBY itu bekerja sekuat tenaga untuk rakyatnya, untuk negaranya, dan semoga rakyat tahu bahwa untuk melakukan tugas itu sering menghadapi masalah-masalah yang sangat sulit dari satu krisis ke krisis yang lain. Kalau itu saja sudah dikenang oleh rakyat kita, kami sudah sangat bersyukur. Selebihnya Putra, kita serahkan kepada sejarah, sejarah akan mencatat apa yang dilakukan oleh kita semua, termasuk yang saya lakukan selama memimpin negara ini.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan Republik Indonesia