Pernak Pernik

Jumat, 12 Februari 2010

Jembatan Persahabatan

 

Jembatan Persahabatan siap menerima tamu negara. (foto: istimewa) Istana Tampaksiring Bali mulai dibangun tahun 1957 dan selesai pada 1963. Ide dibangunnya Istana ini diprakarsai Presiden RI pertama. Ir. Soekarno. Agaknya, Bung Karno telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan bentangan tanah di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar itu. Dan karena kecintaan Bung Karno kepada pesanggrahan Tampaksiring itulah yang membuat Raja Gianyar kemudian menyerahkan lahan pesanggrahan itu kepada negara. Pada 1955, Presiden Soekarno memerintahkan arsitek R.M. Soedarsono membuat rancang-bangun untuk Istana Kepresidenan di sana.

Bukan hanya terpencil sendiri di Pulau Bali, tapi Istana Tampaksiring juga seakan-akan mengawasi seluruh kedamaian lanskap pulau itu. Memandang ke arah selatan dari salah satu sudut Istana akan tampaklah jalan raya yang menghubungkan pantai barat dengan Singaraja di pantai timur. Ke arah utara pada pagi yang cerah, terlihat Gunung Batur. Dan sedikit ke arah timur, Gunung Agung menjulang. Berbeda dengan bangunan-bangunan Istana Kepresidenan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, Istana Tampaksiring menonjolkan ciri ke-Indonesiaan yang hangat. Tidak ada pilar-pilar besar yang menampilkan kesan keagungan dan kekuasaan duniawi. Rancang-bangunnya sangat fungsional, menonjolkan kesederhanaan dan fungsinya sebagai wisma peristirahatan.

Di dalam Istana Tampaksiring, terdapat dua bangunan utama yang biasanya digunakan untuk menerima tamu Kenegaraan yaitu Wisma Negara, dan Wisma Merdeka yang diperuntukkan untuk Presiden Republik Indonesia. Kedua bangunan ini dipisahkan celah perbukitan, namun dihubungkan oleh sebuah jembatan dengan konstruksi beton lengkung yang cantik, lengkap dengan hiasan unik khas Bali yang semakin menampilkan keasrian Tampaksiring dan keanggunan Istana Kepresidenan.

Jembatan yang terletak di sebelah timur Istana Tampaksiring dan membentang di ketinggian 20 meter di atas lembah itu bernama Jembatan Persahabatan. ”Jembatan ini dibangun pada tahun 1960 dengan ketinggian 15 meter , panjang 40 meter dan lebar 1,5 meter,” ujar Kepala Istana Tampaksiring Dewa Gde Swarthana. ” Tamu-tamu Negara dari negara-negara sahabat, yang datang berkunjung untuk membina persahabatan, diantar melalui jembatan ini dari Wisma Merdeka ke Wisma Negara. Oleh karena itulah jembatan ini dinamakan Jembatan Persahabatan,” tambahnya.

Selain konstruksi bangunannya yang cantik, jembatan ini juga dihiasi dengan gantungan yang ditambahkan pada tahun 2003. Hiasan gantungan itu disebut Salangan, dimana biasanya digunakan sebagai hiasan pada bangunan/tempat-tempat suci. Salangan yang terbuat dari uang kepeng dan rajutan benang berwarna merah dan putih sehingga menambah kesan kental Pulau Bali.

”Perawatan Jembatan Persahabatan dilakukan setiap hari berkaitan dengan kebersihannya. Untuk membersihkan atapnya harus dilakukan secara manual dengan jalan menaiki atap tersebut, sedangkan untuk perawatan bagian bawahnya dilakukan dengan mempergunakan tangga oleh tenaga khusus,” D. G. Swarthana menjelaskan tentang perawatan jembatan dan hiasannya yang unik itu.

Menurut Swarthana, sejak didirikan sampai sekarang, jembatan tersebut tidak pernah mengalami perubahan arsitektur. Yang dilakukan hanyalah renovasi dan penambahan ornamen-ornamen seperti Salangan. ”Renovasi atap Jembatan Persahabatan pernah dilakukan pada tahun 2003 dan pengecatan terhadap besi railing jembatan dilaksanakan sesuai dengan kondisinya. Renovasi atap dengan mempergunakan bahan yang sama,” jelasnya. ”Adapun saat ada kunjungan kenegaraan maka Jembatan Persahabatan akan dipasangi karpet merah,” imbuhnya.

Jembatan ini terakhir kali dipergunakan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 22-23 Mei 2009 dalam acara Gathering di Istana Tampaksiring, dan juga pada saat Kunjungan Bilateral bersama dengan Tamu Negara Timor Leste. (yun)

Foto: Jembatan Persahabatan siap menerima tamu negara. (foto: istimewa)

 

 

Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Istana Kepresidenan Republik Indonesia
Hak Cipta dilindungi Undang-undang