Berita Utama
Selasa, 7 November 2006, 10:06:27 WIB
Bahas Pengentasan Kemiskinan
SBY Diskusi Dengan Hernando de Soto
Presiden SBY bersama Hernando de Soto, ekonom dunia asal Peru, di Kantor Presiden, Selasa (7/11) pagi. (foto: muchlis said/presidensby.info)
Presiden pukul 07.00 WIB tiba di kantornya, tempat dilangsungkannya diskusi. Pada diskusi yang berlangsung hangat tersebut, antara lain membahas perihal studi dan kajian Hernando de Soto mengenai masalah fundamental apa yang dihadapi oleh negara yang kurang maju, ataupun negara berkembang. ” Dalam diskusi tadi Hernando de Soto membahas secara global, studi dan kajian beliau mengenai masalah fundamental apa yang dihadapi oleh negara yang kurang maju maupun yang berkembang atau yang baru keluar dari sistem Komunisme, dalam upaya untuk mengentaskan kemiskinan, “ kata Jubir Presiden, Dino Patti Djalal.
Hernando de Soto adalah ekonom dunia asal Peru. Ia telah menulis beberapa buku terkenal yang telah diterjemahkan kedalam 30 bahasa, antara lain the Mystical Capital yang dirilisnya pada tahun 2000, dan The Other Path yang dirilis tahun 1989. Hernando de Soto juga merupakan pendiri Institut Demokrasi dan Liberalisme Peru.
Dalam diskusi yang berlangsung hampir dua jam tersebut, Hernando juga memaparkan inti dari bukunya yang berjudul The Other Path, yaitu bagaimana cara – cara untuk mengentaskan kemiskinan, dikaitkan dengan upaya untuk memberantas terorisme di Peru.
“Satu poin yang beliau kemukakan, upaya ini hambatan utama yang perlu dilampaui adalah bagaimana mengajak kelompok – kelompok yang masih berada di luar sistem. Apabila kelompok – kelompok ini tetap berada di luar sistem, mereka akan merasa dimarjinalisasi, dan ini dapat menjadi sumber dari konflik kekerasan dan sebagainya. Di lain pihak kalau rule of law bisa dikembangkan dan bisa diperluas hingga bisa mencapai sebagai populasi, maka terjadi proses pengentasan kemiskinan. Inilah tema yang dibahas oleh Presiden dengan Hernando de Soto, “ jelas Dino.
De Soto sendiri yang ikut mendampingi Dino Patti Djalal memberikan keterangan pers menyatakan rasa senangnya karena telah diberi kesempatan untuk bisa bertukar pengalaman dengan Presiden SBY dan pemerintah Indonesia, mengenai bagaimana melihat situasi yang sedang terjadi pada masyarakat di berbagai belahan dunia. “Kita menghadapi saat dimana isu internasional saat ini harus didefinisi ulang ketika kita mengetahui bahwa ada banyak orang yang tertinggal di belakang, “ kata de Soto.
De Soto menegaskan bahwa kita membutuhkan masyarakat yang lebih inklusif. Dan Peru yang telah memiliki pengalaman dalam hal itu, dengan senang hati ingin dibagi dengan masyarakat Indonesia. “Dalam pandangan Presiden Susilo, tindakan yang dilakukan Indonesia untuk menjadi negara yang lebih inklusif adalah untuk mengatasi masalah marjinalisasi dan kemiskinan.Saya merasa terhormat untuk bisa berkontribusi dalam pertemuan ini dengan Presiden dan pemerintah Indonesia, “ kata de Soto.(nnf)



