Rapat kabinet terbatas minggu lalu khusus membahas mengenai persiapan mudik Lebaran. Ini memang persoalan tahunan yang harus dipersiapkan oleh pemerintah untuk melayani rakyat. Kebanyakan rakyat kita memang masih terikat dengan kampung halaman, sehingga Lebaran menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu untuk kembali ke kampung halaman, bertemu sanak saudara dan melepas rindu. Arusnya dari kota ke kampung, terutama Jakarta, karena kebanyakan dari kita memang masih orang kota baru, hasil urbanisasi.

Apapun, pemerintah harus mempersiapkan berbagai hal menyambut Lebaran, mulai dari stabilitas harga bahan-bahan pokok dan ketersediaannya, fasilitas perhubungan, darat, laut dan udara, untuk kelancaran arus mudik, keamanannya serta kenyamanannya. Lebaran memang bukan sekedar lontong dan ketupat tetapi juga soal mudik dan arus balik mudik setelah Lebaran.

Yang terakhir ini memang harus dipersiapkan dengan baik. Jalan dan jembatan harus diperbaiki, keselamatan harus terjamin. Perjalanan dengan fasilitas kereta api perlu ditambah jumlahnya dan percaloan harus diberantas. Demikian pula untuk kapal laut dan penerbangan udara. Bagi yang ingin mudik dengan kendaraan pribadi atau bahkan dengan sepeda motor harap berhati-hati, tempat beristirahat tersedia di sepanjang jalur mudik. Jangan paksakan terus berkendara kalau sudah cape atau mengantuk.

Pada tahun 2008 lalu, pemerintah dan masyarakat sangat tertolong dengan banyaknya inisiatif dari perusahaan-perusahaan dan terutama dari partai-partai politik yang menyediakan transportasi mudik untuk masyarakat. Jumlahnya tidak sedikit, ratusan ribu orang bisa terangkut dengan upaya seperti ini dengan tidak membebani transportasi publik yang disediakan oleh pemerintah. Gratis lagi. Dengan demikian, fasilitas transportasi publik yang disediakan oleh pemerintah bisa menjadi lebih longgar.

Memang tahun 2008 lalu adalah tahun menjelang pemilu. Partai-partai politik berlomba untuk mencari dukungan rakyat melalui berbagai program simpatik yang bisa langsung dirasakan oleh rakyat. Salah satunya program mudik bersama secara gratis, yang memang sangat membantu. Lebaran tahun ini terjadi sesudah pesta demokrasi lima tahunan itu usai. Besar kemungkinan partai-partai politik tidak lagi merasa mempunyai kepentingan untuk menyediakan transportasi mudik pada lebaran kali ini. Mereka semua sedang sibuk untuk mempersiapkan pelantikan anggota DPR dan DPRD.

Hal semacam ini juga tampak dalam penanganan bencana gempa bumi di Jawa Barat yang terjadi baru-baru ini. Ketika Presiden SBY meninjau lokasi gempa di Cianjur, hanya ada satu posko bantuan partai di lokasi itu. Bandingkan ketika terjadi bencana di Situ Gintung di tengah-tengah masa kampanye pemilu legislatif. Saat itu semua partai berlomba-lomba mendirikan posko sambil menancapkan benderanya di sekitar lokasi bencana. Siapa bilang pemilu tidak bermanfaat bagi rakyat?

Tetapi tantangan bagi partai politik bukan hanya pada saat menghadapi pemilu. Tantangannya justru di antara dua pemilu, ketika kehidupan masyarakat berjalan sebagaimana biasanya. Partai politik yang hanya hidup ketika menjelang pemilu tidak akan berhasil dalam pemilu. Justru partai politik yang hidup di tengah-tengah masyarakat, baik di kala duka maupun di kala suka, setiap saat membantu jika dibutuhkan, itulah yang akan melekat di hati rakyat.

Ada tidak ada partai, rakyat tetap mudik. Ada tidak ada partai, pemerintah tetap bekerja mempersiapkan mudik dengan baik. Kalau Jubir mah tidak mudik, tetap harus mendampingi presiden menerima rakyat berlebaran di Istana Negara. Selamat Lebaran, mohon maaf lahir dan batin.