Pidato Presiden

Sambutan Puncak Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke-13

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PUNCAK PERINGATAN HARI KEBANGKITAN TEKNOLOGI NASIONAL KE-13 TAHUN 2008
DAN PERESMIAN PEMBUKAAN RITECH EXPO 2008
ISTANA NEGARA, 8 AGUSTUS 2008



Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,


Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar dan Pimpinan Organisasi-organisasi Internasional yang bertugas di Indonesia, para Gubernur, Bupati dan Walikota, para Rektor dan Pimpinan Lembaga-lembaga Pendidikan, para Peneliti, para Teknolog, para Inovator,

Hadirin sekalian yang berbahagia, baik yang berada di Istana Negara ini maupun yang menyaksikan dan mengikuti acara ini di Mega Mall Kemayoran Jakarta, di Kampus Universitas Sriwijaya Palembang, di Kampus Universitas Udayana Denpasar, maupun di Universitas Negeri Gorontalo, meskipun tidak bisa kita lihat di sini. Kami semua dari Istana Negara bisa melihat Saudara-saudara, baik yang ada di Kemayoran Jakarta, di Denpasar dan di Palembang, termasuk yang tadi sempat baca koran sebentar. Kami lihat semuanya. Terima kasih atas kesabarannya mengikuti acara bersama-sama kita semua di hari yang sangat penting ini.

Marilah kita sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kepada kita masih diberi kesempatan, kekuatan, kesehatan untuk melanjutkan karya, tugas, dan pengabdian kita kepada masyarakat, bangsa, dan negara tercinta, bahkan juga ikut berkontribusi dalam membangun tatanan dunia yang lebih damai, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Kita bersyukur hari ini juga dapat mengikuti Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional dan sekaligus Pembukaan Pameran Research Inovation and Technology pada tahun 2008 ini.

Saya pada kesempatan yang baik ini ingin mengulangi ucapan belasungkawa saya, atas dipanggilnya oleh Yang Maha Kuasa Prof. Said Zeni, Kepala BPPT yang meninggal dunia pada tanggal 11 Juli yang lalu. Kita kehilangan salah satu putra terbaik bangsa. Beliau adalah ilmuwan dan inovator terkemuka di Indonesia. Beberapa kali saya bertemu dengan beliau, bahkan beberapa saat sebelum beliau wafat, terutama ketika kita berdiskusi bagaimana mengembangkan energi alternatif, termasuk research dalam rangka pengembangan bahan bakar sintetis yang waktu itu kita lakukan.

Saudara-saudara,
Saya juga ingin menggunakan kesempatan yang baik ini untuk mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada 100 inovator terpilih dan berprestasi dan seluruh inovator di negeri ini yang terus gigih untuk mengembangkan sesuatu untuk kepentingan dan manfaat kehidupan umat manusia, terutama di negeri tercinta ini. Harapan saya, teruslah menjadi dan memberi contoh dalam pengembangan dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kehidupan masyarakat kita.

Terima kasih dan penghargaan juga ingin saya sampaikan kepada Ananda Mutiara Hikmah, ada di sana, yang tadi membawakan puisi yang diciptakan sendiri dengan judul “Rumah Segi Empat”. Ini adalah inovator cilik, insya Allah nanti akan menjadi inovator besar. “Mutiara, Pak SBY jadi ingat, karena mulai dari kelas lima SD sampai tamat SMA, Pak SBY punya kamar segiempat yang luasnya 2,5x3 meter, dan disitulah Pak SBY belajar seperti Mutiara tadi, senang membuat puisi dan juga senang belajar ilmu ukur ruang barangkali dulu namanya stereometri. Sekali lagi Pak SBY mendoakan, kita semua mendoakan Mutiara Hikmah nanti tumbuh menjadi ilmuwan yang unggul”. Terima kasih.

Terima kasih dan penghargaan tentu ingin saya sampaikan kepada Menteri Riset dan Teknologi dengan seluruh jajarannya yang terus bekerja keras untuk melakukan pengembangan, research di negeri tercinta ini. Saya menilai agenda dan fokus ristek kita itu tepat, karena relevan, dan sekaligus ingin menjawab berbagai permasalahan dan tantangan yang kita hadapi sekarang ini. Tadi Pak Kusmayanto mengatakan, bahwa ada enam bidang yang dijadikan prioritas, pangan, energi, transportasi, informasi dan komunikasi, pertahanan, kesehatan dan juga ditambah dengan penanganan-penanganan gempa bumi, utamanya dalam mengembangkan early warning system untuk tsunami. Apa yang digelar di Pameran Research Inovasi dan Teknologi di Kemayoran, saya kira juga sesuai dengan prioritas yang dikembangkan oleh jajaran Ristek kita.

Hadirin yang saya hormati,
Tema Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tahun ini sudah disampaikan tadi adalah “Inovasi teknologi untuk pemberdayaan industri atau inovasi untuk pemberdayaan teknologi”. Saya juga menilai tepat dan mari kita jalankan. Research is not for the sake of research, tetapi mesti membawa manfaat, membawa kebaikan, kita aplikasikan dalam dunia industri yang nanti akhirnya penggunanya adalah masyarakat luas.

Kemarin di ruangan ini, saya bertemu dengan para Pimpinan Program Pasca sarjana seluruh Indonesia, terutama yang dari Perguruan Tinggi Negeri. Kami membicarakan tentang diversifikasi pangan. Dan saya sampaikan pada beliau-beliau, kita ini sesungguhnya sudah banyak sekali melakukan penelitian, termasuk penelitian pangan. Tetapi persoalannya sejauh mana, secepat mana hasil penelitian itu menjadi produk industri dan kemudian bisa dinikmati oleh rakyat kita. Ini yang menjadi tantangan, karena saya sering berkunjung ke pameran-pameran, penelitian, dan pengembangan puluhan kali selama hampir 4 tahun ini. Pertanyaan saya tetap, sejauh mana ini terus diaplikasikan dan diwujudkan dalam produk-produk yang memang diperlukan oleh masyarakat.

Ketika harga kedelai begini mahal, ketika harga tepung terigu juga mahal, karena kita masih mengimpor sebagian besar, saya mencicipi makanan beberapa ragam makanan waktu itu di tempatnya Pak Suryadharma Ali Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, mirip yang berasal dari tepung terigu, tetapi sesungguhnya dari singkong, rasanya sama. Harapan saya tidak berhenti di situ, tapi terus dialirkan menjadi betul-betul makanan yang berasal dari singkong, pengganti tepung terigu.

Saudara tahu untuk mengenalkan sebuah produk makanan yang baru, mie instan misalnya diperlukan waktu 15 tahun sampai masyarakat betul-betul menyenangi mie instan itu sebagai pengganti nasi. Saya garis bawahi, keterpaduan tadi dikatakan dari hulu sampai hilir, mulai dari desain, rekayasa, engineering, produksi sampai pemasaran, itu harus betul-betul kita bikin lebih efektif lagi di negeri kita.

Saudara-saudara,
Masih bertepatan atau berkaitan dengan tema, merespon yang disebut dengan krisis pangan dan energi dunia sekarang ini, beberapa saat yang lalu kita telah bertekad sebetulnya untuk mengubah musibah ini menjadi berkah, from crisis to opportunity, dan kita bisa mengubah menjadi peluang bagi kebaikan bangsa kita. Waktu itu saya mengajak semua pihak, para pakar, para peneliti, kita ajak bicara bagaimana mengembangkan ketahanan pangan dan ketahanan energi, kita juga mengajak para praktisi, para industriawan dan pelaku bisnis, termasuk KADIN. Dengan harapan, apabila segitiga ini bersinergi bekerja dengan baik, Pemerintah, dunia usaha dan peneliti atau lembaga perguruan tinggi, saya yakin akan lebih bagus proses dari hulu sampai hilir yang tadi disampaikan oleh Menristek.

Hadirin yang saya muliakan,
Marilah kita melihat sejenak tantangan yang dihadapi oleh dunia dan oleh bangsa Indonesia di abad 21 ini. Kita hidup dalam, yang saya katakan a warmer more crowded planet. Bumi kita sekarang ini penduduknya sekarang berjumlah 6,6 miliar. Tahun 2030 diramalkan akan menjadi 8,4 miliar. Tahun 2050 diramalkan lagi menjadi 9,5 miliar. Indonesia sendiri sekarang penduduknya sekitar 230 juta, tahun 2030 nanti akan menjadi 289 juta dan tahun 2050 menjadi 313 juta. Jumlah penduduk yang begini besar pasti memiliki konsekuensi pada konsumsi atau kebutuhan akan pangan, akan energi, dan juga akhirnya berkaitan dengan lingkungan hidup kita.

Oleh karena itulah, sejak tahun 2004 di berbagai forum di dalam dan di luar negeri, saya mengatakan bahwa kita tengah membangun peradaban gelombang keempat, civilitation of the 21st century, yang saya sebut save our planet society. Alvin Toffler mengatakan gelombang pertama pertanian, gelombang kedua industri, gelombang ketiga informasi. Menurut saya tiga-tiganya plus, sekarang ini satu kepedulian, satu tanggung jawab, dan satu kerjasama global untuk menyelamatkan bumi kita baik-baik, terutama mengahadapi climate change dan global warming. Solusinya apa menghadapi tantangan dunia abad 21 ini?

Saudara-saudara,
Menurut pendapat saya ada dua. Pertama, bagaimanapun umat manusia termasuk bangsa Indonesia harus memiliki new lifestyle, gaya hidup yang baru, gaya hidup yang pandai merawat lingkungannya, biaya hidup yang hemat energi dan lain-lain. Itu pertama. Ini berkaitan dengan culture, kebudayaan, nilai, perilaku. Yang kedua, tiada lain adalah intervensi teknologi, inovasi teknologi.

Dua hari yang lalu saya berada di Denpasar, bertemu dengan hampir lima ratus mahasiswa dan siswa dari negara-negara Asia, termasuk Indonesia dan lima peraih nobel di bidang science dari mancanegara. Saya angkat masalah ini juga untuk menjadikan tantangan bersama dan saya men-challenge, saya mengajaklah para inovator, para peneliti, para ilmuwan untuk bersama-sama menjawab tantangan global, tantangan abad 21 ini mulai sekarang dan ke depan.

Saudara-saudara,
Agenda riset nasional yang senantiasa saya ikuti perkembangannya, saya nilai juga cukup fokus dan tepat, termasuk yang saya sampaikan tadi 6 prioritas yang telah dipilih oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Saya hanya ingin memberikan penekanan dan ingin menggarisbawahi dari 6 prioritas tadi untuk lebih mendorong lagi para inovator kita melakukan inovasinya.

Pertama, masalah ketahanan pangan. Untuk kita ketahui bahwa arah dari pembangunan pertanian adalah ketahanan pangan yang ditandai dengan peningkatan produksi dan produktivitas. Kita ingin terus mengembangkan varietas unggul dari pertanian kita, terutama padi dan komoditas-komoditas utama yang adaptif terhadap perubahan iklim. Disebutkan disamping padi, jagung dan kedelai, saya juga ingin betul-betul kita mengembangkan lagi, berinovasi lagi untuk tebu dan daging sapi, paling tidak 5 komoditas unggulan itulah yang harus kita miliki pada tahun-tahun mendatang, disamping banyak yang sudah swasembada, yang sudah kuat di negeri kita ini. Saya senang kemarin, ketika meninjau di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi, Subang, karena saya melihat kemajuan dalam penelitian kita dan diluncurkan 8 varietas unggul padi kita. Itu masalah pangan dan pertanian.

Yang kedua, Saudara-saudara masalah penelitian, pengembangan dan inovasi yang menyangkut sumber energi baru dan terbarukan. Yang kita perlukan adalah energi yang atau sumber energi yang praktis, yang efisien, ekonomis dan tentunya ramah lingkungan. Biofuel, biomass dan kemudian synthetic fuel sangat mungkin kita kembangkan di negeri ini. Oleh karena itu, saya berharap para inovator harus berpikir inovatif, thinking outside the box agar kita betul-betul menjemput, mendahului pikiran-pikiran yang konvensional.

Dulu barangkali mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan, angin, surya, hydro, panas bumi dan lain-lain dengan harga minyak bumi, crude yang di bawah 35 dolar itu tidak ekonomis, tidak kompetitif. Sekarang dengan di atas 80 dolar, bahkan pernah mencapai 145 dolar, mestinya kan lebih kompetitif, apalagi kalau teknologi yang Saudara kembangkan bikin lebih efisien lagi, apa namanya, instrumen atau peralatan dari sumber-sumber energi terbarukan tersebut.

Yang ketiga, masalah inovasi, Saudara di bidang teknologi dan manajemen transportasi. Ini juga sangat penting. Saudara tahu mengapa jalan-jalan penuh sesak, macet? 300 ribu kendaraan tambah tiap tahunnya, berapa banyak mengkonsumsi energi, berapa banyak subsidi yang harus dibayar oleh pemerintah. Minta maaf. Temukan teknologi yang betul-betul bikin efisien dalam mengkonsumsi energi. Mobil listrik yang ramah lingkungan, saya kira apa itu namanya Marlip ya dan sejenisnya, silakan dikembangkan lagi. Kemudian kita juga memerlukan armada laut, baik untuk, apa namanya, Angkatan laut kita, Angkatan Bersenjata maupun untuk kepentingan komersial. Dari geo-ekonomi kita banyak sekali peluang di masa depan kalau kita betul-betul mengembangkan kemampuan transportasi kita, utamanya di laut, tolong dikembangkan semuanya itu.

Saya pernah naik kapal patroli cepat, buatan kita di Nabire bagus sekali, cepat sekali. Dan itu bukan hanya untuk pertahanan, tetapi juga untuk keamanan, untuk mengejar para pelaku kejahatan illegal loging, illegal mining, illegal trading dan lain-lain. Saya kira tolong dikembangkan dengan harapan lebih efisien dan harganya lebih kompetitif.

Yang keempat, industri pertahanan. Saudara tahu bahwa peperangan masa sekarang, peperangan modern atau yang disebut dengan revolution in military affairs itu padat dan syarat teknologi. Oleh karena itu, mari kita tidak tertinggal. Disamping kita sudah mengembangkan dengan riset yang kita lakukan sendiri, panser, peluru-peluru kendali, silakan dilanjutkan itu. Tapi saya titip kepada Menristek, kepada Menteri Pertahanan, kepada semua pihak untuk betul, untuk juga mengembangkan sistem persenjataan yang diperlukan untuk katakanlah, meskipun mudah-mudahan tidak terjadi untuk mengemban tugas peperangan di negeri kita ini yang banyak gunungnya, banyak hutannya, kadang-kadang perang melawan insurgency dan lain-lain. Harapan saya tidak terjadi mudah-mudahan. Tetapi agar tidak ada perang, kita harus siap perang. Oleh karena itu, tolong dikembangkan peralatan itu, karena ada limit of technology, begitu digunakan untuk hutan-hutan, gunung-gunung atau medan-medan yang tidak mudah dijangkau oleh peralatan yang biasa.

Yang kelima, di bidang kesehatan dan obat-obatan. Saya titip saja Pak Kusmayanto, para inovator, para peneliti fokuskan atau prioritaskan untuk menemukan vaksin dan obat-obatan bagi penyakit-penyakit menular yang ada di negeri kita, malaria, demam berdarah, apalagi, flu burung, HIV/AIDS. Saya menghargai peneliti Unair di Surabaya, yang juga cukup maju dalam mengembangkan vaksin untuk flu burung. Saya yakin juga ada upaya seperti di tempat-tempat yang lain.

Yang keenam, information and communications technology. Saya juga mendorong. Yang saya inginkan jangan hanya penelitian atau pengembangan di teknologinya itu sendiri, tetapi lihat juga keadaan geografi kita di seluruh tanah air kita, bagaimana kita membangun dan menggelar ICT ini agar efektif dan efisien. Dan prioritas kita aplikasi ICT ini adalah untuk pendidikan, untuk bisnis, dan untuk untuk membangun good governance.

Yang ketujuh atau yang terakhir dari perioritasnya Pak Kusmayanto adalah terkait dengan early warning untuk tsunami teruslah dikembangkan, kembangkan, uji coba dan latihkan. Indonesia rawan gempa. Lempeng tektonik yang mengelilingi kita itu orang mengatakan ya berkah, ya musibah. Kita harus biasa hidup di negeri tercinta dengan kondisi geografisnya, sebagaimana kita ketahui ada tiga lempeng tektonik yang ada di wilayah kita.

Hadirin yang saya hormati,
Saya juga menyambut baik prakarsa dan upaya komunitas penelitian, komunitas teknologi di negeri kita ini untuk membangun budaya iptek dan menjadi dan upaya menjadikan bangsa ini bangsa yang rasional.

Saudara-saudara,
Persyaratan atau karakter negara maju, developed nation, itu adalah mereka yang rasional, yang memiliki brain power, yang memiliki the power of reason yang kuat, bukan negara yang subur terhadap tahayul ataupun fitnah dan hal-hal sejenis itu. Ini untuk anekdot, ada yang mengatakan ini, SBY datang, gempa bumi muncul, dikaitkan SBY dengan gempa bumi.

Saudara-saudara,
Saya pernah tanya Menteri Energi. Yang namanya lempeng Indo-Australia itu bergerak dari Selatan ke Utara, yang sering bertabrakan dengan lempeng Eurosia yang sering menimbulkan gempa bumi, termasuk tsunami, itu sudah bergerak sejak 200 juta tahun yang lalu, SBY belum menjadi Presiden dulu 200 juta tahun yang lalu. Ini contoh-contoh pemikiran yang irasional. Disamping irasional itu mempermainkan Tuhan, karena segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, tentu disamping bisa dijelaskan secara scientific, ilmiah, juga itu rahasia Allah SWT. Peradaban yang sedang kita bangun, Saudara-saudara, juga peradaban yang membangun budaya iptek dan masyarakat yang rasional tadi.

Dalam pidato saya 20 Mei yang lalu, memperingati satu abad kebangkitan nasional, ingat ada tiga pilar yang harus kita perkokoh, kalau kita ingin betul-betul menjadi negara maju dan sejahtera di abad 21 ini. Pertama adalah kemandirian, kedua adalah daya saing, dan ketiga adalah peradaban bangsa. Ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran yang penting dan bisa memberikan sumbangan yang sangat berarti.

Saudara-saudara,
Saya juga senang dengan upaya komunitas ristek kita untuk terus mendorong kegiatan inovasi. Inovasi teknologi yang Saudara-saudara lakukan itu menjadi solusi terhadap banyak hal, banyak masalah, banyak isu, baik di negeri kita maupun pada tingkat dunia. Contohnya, yang saya sampaikan tadi, energi, pangan dan lingkungan. Dorong dan sambutlah ide-ide baru, termasuk ide-ide gila jangan alergi, jangan buru-buru menutup pintu, ah ini fiksi, jangan.

Bill Gate waktu berdiskusi dengan saya mengatakan, bahwa yang diperlukan itu innovation centres, the power of imaginations. Melamun, membayangkan, berkhayal. Itu konon embrio dari penemuan-penemuan besar. Oleh karena itu, tolonglah diwadahi semua diajak, diayom, dibimbing upaya-upaya untuk sebuah inovasi itu.

Indonesia harus menjadi bangsa yang unggul dalam ristek, tentu yang membawa manfaat bagi kemanusiaan. Konstitusi kita Undang-Undang Dasar 1945 mengingatkan, kemajuan iptek harus juga mempedomani nilai-nilai agama, nilai moral sebetulnya di situ religious dan, apa namanya, nilai moralitas kita. Teknologi inovasi yang hanya mengembangkan cyber crimes, mengembangkan alat perusak yang digunakan oleh para teroris ataupun juga untuk membikin semacam senjata-senjata biologi, senjata kimia, tentulah tidak membawa manfaat bagi kemanusiaan. Kita harus tegas, bahwa mengembangkan teknologi benar-benar untuk maslahat dan kemampuan umat manusia, termasuk bangsa kita.

Yang terakhir dari sambutan saya, Saudara-saudara, ketika saya berkunjung dan melihat hasil inovasi teknologi penelitian di BBPT, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi di Sukamandi. Dalam acara dialog saya dengan para peneliti dan petani, ada yang angkat tangan waktu itu, saya masih ingat namanya Saudara Totok Agung dari Universitas Panglima Besar Sudirman di Purwokerto. Pertanyaannya singkat, ”Pak, bagaimana nasib dan masa depan peneliti?” Begitu pertanyaannya. Saya merespon dengan positif dan sesungguhnya saya setelah berdialog itu menugasi Mendiknas, Menristek, Menpan, Menteri Keuangan untuk merumuskan kebijakan dan aturan yang adil, yang baik untuk para peneliti kita. Jangan sampai ada istilah, begitu menjadi peneliti, menggeluti litbang, hidupnya sulit berkembang karena insentif, karena jenjang karir dan penghargaan lain yang jauh dari memadai.

Saya beri contoh, yang ingin mengembangkan varietas unggul padi misalnya sekian belas tahun, itu sendiri sudah dedikasi. Tahun ke-20, tahun ke-15 menghasilkan varietas unggul yang tadinya satu hektar hanya tujuh ton, yang bersangkutan bisa lima belas ton, maka itu harus menjadi catatan tersendiri untuk insentif, untuk penghargaan, ada prestasi, ada take for berprestasi, ini adil. Oleh karena itu, saya ingin betul-betul dirumuskan karena saya yakin masih dalam batas kemampuan negara kita untuk memberikan insentif, penghargaan kepada para peneliti kita di berbagai cabang.

Saudara,
Tiga tahun yang lalu, kita tidak yakin, apakah bisa berswasembada beras. Akhirnya tahun 2006, kita bertekad semua, para Gubernur, para Menteri, lembaga-lembaga terkait, dunia usaha, komunitas petani, para peneliti padi, beras untuk meningkatkan tahun 2007 yang lalu dua juta ton beras tambahan. Alhamdulillah bisa kita capai. Tahun ini, insya Allah, kita betul-betul bisa aman dan tidak perlu harus mengimpor. Mudah-mudahan tidak ada gangguan alam apapun dan seterusnya harus makin kuat, makin kuat, ternyata bisa.

Oleh karena itu, menghadapi gonjang-ganjing pangan dunia, alhamdulillah cukup kita dan harga kita dibandingkan negara-negara lain harga beras kita relatif stabil. Saya ingin ini satu starting point, titik berangkat untuk lebih lagi kita membangun ketahanan pangan kita bersama-sama, termasuk kontribusi dari dunia penelitian, pengembangan, dan inovasi.

Itulah pesan, harapan, dan ajakan saya, Saudara-saudara. Dan akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT, dan dengan mengucapkan ”Bismillahirrahmanirrahim”, Pameran Research and Innovation Technology 2008, saya nyatakan dengan resmi dibuka.

Sekian
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan